MurojaahHarian
Pengajar
Hj. Nur Hilwa Layyina, M. Pd
Waktu
Setiap Hari, 06.00 WIB
Lokasi
Auditorium Asrama Putri Khozinatul Ulum An-Nawa
Deskripsi Kajian
Program Murojaah Tahfidzul Qur'an Putri di Pondok Pesantren Khozinatul Ulum An-Nawa merupakan salah satu pilar pendidikan utama yang dirancang khusus untuk menjaga kelestarian hafalan Al-Qur'an para santriwati. Program ini menekankan pada kualitas bacaan dan kekuatan ingatan agar hafalan tidak sekadar hafal, tetapi melekat kuat (mutqin). Berikut adalah deskripsi umum mengenai kegiatan tersebut: 1. Visi dan Tujuan Menjaga Amanah: Memastikan setiap ayat yang telah dihafal tetap terjaga dan tidak terlupakan. Kualitas Bacaan (Tahsin): Menekankan pada ketepatan makharijul huruf dan hukum tajwid saat murojaah. Ibadah dan Karakter: Membentuk karakter santriwati yang berakhlak mulia (Ahlu Qur'an) melalui kedekatan yang konsisten dengan kalamullah. 2. Sistem dan Metode Murojaah Kegiatan ini biasanya dilakukan secara terstruktur dengan beberapa metode: Murojaah Mandiri: Santriwati mengulang hafalan sendiri sebelum disetorkan. Semaan Berpasangan (Sabaq-Sabqi): Antar santriwati saling menyimak hafalan satu sama lain untuk mengoreksi kesalahan kecil. Setoran Murojaah: Menyetorkan kembali hafalan lama kepada ustadzah pembimbing untuk memastikan kelancaran secara berkala. Daurah/Ujian Periodik: Pengetesan hafalan dalam jumlah juz tertentu (misalnya ujian per 5 juz atau 10 juz) untuk mendapatkan legalitas kelancaran. 3. Karakteristik Lingkungan Putri An-Nawa Kedisiplinan: Jadwal yang tertata ketat, biasanya dilakukan pada waktu-waktu utama seperti setelah Subuh, sebelum Ashar, atau setelah Maghrib. Suasana Kondusif: Lingkungan pesantren yang semi-terisolasi dari gangguan eksternal membantu santriwati lebih fokus pada interaksi dengan Al-Qur'an. Pendampingan Ustadzah: Dibawah bimbingan para hafidzah yang sudah berpengalaman dalam menjaga hafalan. 4. Output Lulusan Diharapkan santriwati yang mengikuti program murojaah ini tidak hanya mampu mengkhatamkan 30 juz, tetapi juga memiliki kepercayaan diri untuk mengajarkan kembali (talaqqi) atau menjadi imam/pemimpin tadarus di masyarakat kelak.
