"Kitab Tafsir al-Jalalain adalah salah satu kitab tafsir Al-Qur'an yang paling legendaris dan paling banyak dipelajari di dunia Islam, khususnya di lingkungan pesantren di Indonesia. Kitab ini dikenal karena gaya bahasanya yang sangat ringkas, padat, dan langsung pada inti penjelasan ayat.
Berikut adalah deskripsi mendalam mengenai kitab tersebut:
1. Sejarah Unik Penulisan (Dua "Jalal")
Nama Al-Jalalain secara harfiah berarti "Dua Jalal", merujuk pada dua ulama besar bermazhab Syafi'i yang menyusunnya secara bersambung:
Jalaluddin al-Mahalli (wafat 864 H): Beliau menulis tafsir mulai dari Surah Al-Kahfi sampai akhir Al-Qur'an (An-Nas), ditambah Surah Al-Fatihah. Namun, beliau wafat sebelum merampungkan sisanya.
Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H): Beliau adalah murid dari murid Al-Mahalli. Ia melanjutkan proyek ini mulai dari Surah Al-Baqarah sampai akhir Surah Al-Isra' hanya dalam waktu 40 hari.
Hebatnya, corak bahasa dan metodologi penulisan as-Suyuthi sangat identik dengan Al-Mahalli, sehingga kitab ini terasa seolah ditulis oleh satu orang saja.
2. Metodologi dan Karakteristik
Tafsir Ijmali (Global): Penjelasannya sangat singkat. Seringkali, penjelasan tafsirnya hanya terdiri dari satu atau dua kata untuk menjelaskan makna kata yang sulit dalam ayat.
Fokus pada Makna Kata: Kitab ini mengutamakan penjelasan sisi kebahasaan (linguistik), asbabun nuzul (sebab turunnya ayat), dan penentuan hukum fikih secara singkat.
Penyebutan Qira'at: Jika ada perbedaan bacaan Al-Qur'an yang masyhur, tafsir ini biasanya menyebitkannya secara ringkas.
Jumlah Kata yang Unik: Konon, jumlah kata dalam tafsir ini hampir sama dengan jumlah kata dalam Al-Qur'an itu sendiri.
3. Keunggulan Kitab
Sangat Efisien: Cocok bagi pemula yang ingin memahami makna Al-Qur'an secara cepat tanpa terjebak dalam perdebatan teologis atau filosofis yang panjang.
Pintu Gerbang Tafsir: Di pesantren, kitab ini biasanya menjadi kitab tafsir tingkat menengah yang dipelajari setelah santri menguasai bahasa Arab dasar dan ilmu alat (Nahwu-Shorof).
Rujukan Utama: Karena kredibilitas kedua penulisnya, kitab ini menjadi rujukan dasar bagi ulama-ulama setelahnya dalam menyusun tafsir yang lebih kontemporer.
4. Kedudukan di Kurikulum Pesantren
Jika Ta'limul Muta'allim membentuk adab dan Fathul Qorib membentuk hukum, maka Tafsir al-Jalalain adalah jendela pertama santri untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an secara utuh (30 juz). Kitab ini sering dibaca dalam pengajian "pasaran" atau kilatan di bulan Ramadan karena efisiensinya."